
Malang – Pada tanggal 20 Mei 2024, mahasiswa Psikologi Unira Malang melaksanakan agenda kuliah lapang berupa observasi dan wawancara, terkait kebudayaan agama Hindu di Dusun Banaran Kec. Ngajum. Menurut Pandhita Singgih mayoritas masyarakatnya beragama Hindu sekitar 90% yakni berjumlah 225 KK, ini bisa diperhatikan ketika berkeliling terlihat pelangkiran (tempat untuk sesajen) di setiap rumah.

Berdasarkan observasi di Banaran, para mahasiswa menyelidiki tiga aspek. Pertama berkunjung ke Pandita sebutan bagi pemimpin umat Hindu, bernama Pasraman Amrita Locana Singgih Pandita Tanaya Nirmala, dimana beliau sebagai narasumber utama kami. Kedua, menelusuri pura tempat sembahyang umat Hindu yang bernama Dharma Canthi. Ketiga, menyusuri pengabenan (tempat pembakaran mayat).
“Perjalanan dari kampus membutuhkan sekitar 20 menit hingga tiba di rumah Singgih Pandita Tanaya Nirmala, beliau adalah seseorang yang dihormati di Banaran. Di sana kami mendapatkan ilmu tentang kebudayaan, sejarah, agama dan lingkungan sosial yang berkembang di daerah tersebut” ujar Setyaning Puspita Sari, Kepanjen, Senin (20/5/2024).
Menurut Pandita, sebelum tahun 1966, masyarakat Banaran beragama Islam. Akan tetapi, setelah terjadinya peristiwa G30S PKI tahun 1965 mereka beralih keyakinan yang sesuai dengan pribadi masyarakat, yakni agama Hindu.

Pandita juga memberikan apresiasi kepada umat Islam, karena sudah bertoleransi seperti membantu pembuatan ogoh-ogoh, mengamankan hari besar keagaman Hindu dan lain sebagainya. Ihwal tersebut disebabkan, masyarakat Banaran berasas pada semboyan Pancasila yakni, Bhineka Tunggal Ika. Selain itu, pandita menyatakan bahwa Hindu di Indonesia ini tidak seperti di negara India, melainkan agama hindu disini tetap dikemas dengan ala ke-Indonesiaan.
Mahasiswa/i kemudian melakukan observasi di pura Dharma Canthi. Semua mahasiswa melihat berbagai keragaman sarana dan prasarana agama Hindu, seperti patung para dewa, alat-alat musik, almari yang berisikan kitab suci dan buku keagaman hindu, kalender hindu dan lain sebagainya.
Yang terakhir pengabenan, bernama perabuan umat Hindu Marga Muksa. Mereka meyakini bahwa jasad yang dibakar bisa mempercepat perginya roh (sukma) untuk bereinkarnasi atau mencapai moksa. Jika diperhatikan, konstruksi pengabenan tersebut membentuk kerucut, diatasnya ada cerobong asap dan didasarnya ada lorong untuk pembakaran mayat.
Penulis : Alfan Setyawan
Editor : Amalia Bilghis
