Mengenal PTSD dan intervensinya

Manusia mencoba memahami dunia menggunakan hipotesis yang telah terbentuk oleh pengalaman mereka sebelumnya. Setelah seseorang mengalami trauma, hipotesis ini dapat terkesan dilebih-lebihkan sehingga dapat mengakibatkan seseorang kesulitan untuk memperbarui harapan mereka dan membuat mereka tetap menyimpan perasaan negatif akibat dari rangsangan traumatis yang diterima. Secara kritis, telah diusulkan bahwa kesulitan tersebut dapat mendorong perkembangan gangguan stres pasca trauma (PTSD). Orang dengan PTSD cenderung memiliki kualitas hidup yang rendah, hari-harinya lebih banyak cacat, dan lebih mungkin memiliki upaya untuk bunuh diri. Banyak gejala PTSD yang tumpang tindih dengan MUPS (gejala medis yang tidak dapat dijelaskan secara medis), seperti mual, diare, muntah, pusing, sesak napas, kesemutan, dan kehilangan suara, dapat dianggap reaktivitas fisiologis untuk isyarat yang berhubungan dengan trauma
(Gupta, 2006). Selain itu, PTSD memiliki dampak negatif yang signifikan pada fungsi psikososial seseorang (Kessler, 2000; Sareen et al., 2007). Penelitian oleh Shopp et. al. (2022) menyebutkan bahwa terdapat penurunan selektif dalam memperbarui harapan terkait trauma. Oleh karena itu, memperkuat proses pembaruan dapat menjadi tujuan penting untuk mengedepankan proses resiliensi setelah seseorang mengalami trauma.
Intervensi yang dilakukan terbagi menjadi beberapa seai antara lain;
Pertama adalah Restrukturisasi Kognitif yaang mana terapis menemukan berbagai strategi terapi yang tepat sesuai jenis trauma dan konteksnya, hal ini dilakukan untuk mengatasi keyakinan disfungsional yang terkait dengan gejala MUPS dan PTSD.
Kedua adalah Pelatihan Relaksasi (RT), untuk mengurangi gairah fisiologis dan hipersensitivitas terhadap sensasi tubuh yang umum pada pasien dengan keluhan somatik, kegiatan terapi ini biasanya merupakan latihan pernapasan diafragma dan relaksasi autogenik.
Ketiga Activity Regulation (AR) untuk mengelola gejala fisik, terapis memberikan jadwal pada peserta untuk melakukan suatu aktivitas yang melibatkan fisik, biasanya orang dengan PTSD memiliki kecenderungan untuk menarik diri dari aktivitas karena mereka percaya itu akan menyebabkan cedera atau memperburuk gejala fisiknya saat ini, sehingga metode AR ini membantu mengurangi perilaku menghindar karena ketakutan berinteraksi dengan orang lain dan juga secara langsung menargetkan pembatasan kehidupan sosial mereka.
Keempat adalah keterampilan komunikasi untuk mendorong ekspresi langsung dari emosi, keyakinan, dan pikiran kepada orang lain termasuk orang yang dicintai, terapis tetap memperhatikan pikiran disfungsional klien yang terkait dengan PTSD dan gejala somatik dan menggunakan pertanyaan untuk mengajari mereka cara mengidentifikasi dan menantang mereka jika perlu. Selain itu, mereka juga diminta untuk menguraikan dan mengintegrasikan pengalaman traumatis mereka.
Kemudian di sesi terakhir, peserta diminta untuk meninjau keterampilan dan pengetahuan yang dipelajari selama intervensi dan mengembangkan rencana pencegahan kekambuhan (Benitez et. al., 2013).

Social Child Care: Solusi masalah pengasuhan anak bagi ibu bekerja

Pengasuhan anak yang paling sering kita jumpai dilakukan oleh lingkungan pertama anak yakni orang tua, namun pada sebagian keluarga ada yang mengalami kesulitan untuk menjalankan aktivitas pengasuhan lantaran kedua orang tua yang tengah sibuk bekerja.
Opsi dalam mengatasi masalah tersebut bagi sebagian ibu (yang lebih banyak bertanggung jawab dalam proses pengasuhan) akan menitipkan anak mereka pada sebuah lembaga pengasuhan, babysitter atau menitipkan pada kakek atau nenek, bahkan ada yang membawa anak-anak mereka selama bekerja.


Opsi terakhir ini jarang sekali dilakukan, selain akan mengganggu kegiatan ibu dalam bekerja juga mungkin menjadi hal tabu untuk dilakukan bagi seorang ibu dengan pekerjaan tertentu. Sehingga opsi terbaik adalah menitipkan anak ke sebuah lembaga, kakek-nenek atau baby sitter. Akan tetapi, yang tak banyak orang tua sadari, selain lingkungan keluarga atau jasa pengasuhan anak, lingkungan terdekat orang tua juga dapat menjadi pengasuh anak. Seperti, tetangga, teman, hingga anggota komunitas.


Pengasuhan secara informal sudah banyak dilakukan bagi masyarakat kita dengan kearifan lokal yang melekat. Salah satu contoh, dalam penelitian Kumalasari (2020) menyebutkan bahwa pengasuhan anak di lingkungan rural dilakukan dengan sukarela, tidak ada upah. Artinya tidak ada tanggungan dana dari kelembagaan, bahkan tidak ada perlindungan hukum seperti halnya pengasuhan anak pada lembaga-lembaga pengasuhan anak secara umum. Akan tetapi, sebagai gantinya, kelompok masyarakat dengan kohesi sosial yang tinggi dapat menawarkan beragam bantuan lebih, seperti; hubungan kekerabatan informal, hingga kebutuhan sehari-hari secara fisik, informatif, dll. Pengasuhan ini disebut dengan social child care.

Keunggulan dari jenis pengasuhan ini antara lain; orang tua menjadi minim biaya jika dibandingkan dengan melibatkan daycare atau babysitter yg tentu berbayar sebagai jasa pengasuhan anak, selain itu kebutuhan orang tua akan adanya jasa pengasuh dan kebutuhan pengasuh untuk memperoleh anak asuh saling terpenuhi.


Strategi yang diperlukan orang tua untuk menemukan pengasuh anak dalam social child care ini cukup sederhana; orang tua perlu untuk terhubung dengan kelompok masyarakat/komunitas di lingkungan sosialnya, kemudian melibatkan anak dalam kegiatan sosial bersama para anggota komunitas. Sehingga anak dapat mengenal lingkungan sosialnya dan para anggota komunitas dapat mengenal anak dengan mudah. Anggota komunitas sosial dengan minat yang tinggi dalam mengasuh anak akan lebih mudah menciptakan attachment (kelekatan) anak, pada proses munculnya attachment anak dengan mereka inilah orang tua dan anggota komunitas dapat turut menciptakan hubungan kekerabatan guna mencapai tujuan yang tepat dalam pengasuhan anak secara bersama.
Social child care selain memberi beberapa keuntungan, juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain; orang tua mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk menemukan pengasuh karena mungkin anggota komunitas kurang tertarik dalam mengasuh anak, kemudian bagi orang tua maupun pengasuh mungkin mengalami berbagai tantangan untuk saling menyeimbangkan antara peran dan tanggung jawab keduanya sebab kedua pihak tentu memiliki pola asuh yang mungkin berbeda.

Inspiring | Excelent | Humble

Kecemasan vs. Anxiety

Kecemasan berbeda dengan anxiety. Di beberapa portal, media sosial, hingga pembicaraan sehari-hari banyak menyebut anxiety sebagai kecemasan. Secara klinis, kecemasan merupakan hal yang biasa muncul ketika seseorang mengalami kekhawatiran, bimbang, dan takut. Perasaan cemas ini biasanya disertai dengan napas yang tak beraturan, jantung berdebar, dan berkeringat. Hal ini normal terjadi bilamana rasa cemas muncul pada momentum khusus atau yang belum pernah dialami sebelumnya. Misalnya, ketika seseorang hendak berbicara atau berpidato di depan umum, menjalani tes untuk kompetisi dan semacamnya. Adanya objek yang membuat khawatir atau takut adalah hal yang wajar dialami oleh semua orang.

Sedangkan anxiety merupakan salah satu gangguan mental yang mana penderita mengalami anxietas yakni perasaan cemas, ragu, panik, khawatir, dan merasa takut tanpa adanya objek penyebab munculnya perasaan tersebut secara berlebihan, terus menerus, dan tak terkendali sehingga aktivitas sehari-hari mereka menjadi terganggu.

Gangguan tersebut dimanifestasikan pada fungsional organ, seperti; sulit tidur, nafsu makan berkurang, sering pusing, gemetar, sulit berkonsentrasi, jantung berdebar, nyeri dada, nyeri ulu hati, tekanan darah naik, diare, konstipasi, sesak napas, hingga gangguan seksualitas.

Mereka yang mengalami anxietas cenderung sulit mengelola pola pikirnya (distorsi kognitif) sehingga penderita perlu diberikan terapi restrukturisasi kognitif oleh para ahli.

Anxietas menjadi suatu perasaan yang muncul pada beberapa penderita gangguan tertentu antara lain; Fobia (Ketakutan pada sesuatu), Serangan panik, General anxiety disorder (gangguan anxietas secara umum), Gangguan obsesif-kompulsif (rasa ingin mengulang sesuatu tanpa sebab), Gangguan stress pasca-trauma (rasa yang muncul setelah sakit), dan Gangguan stress akut (stress yang datang secara mendadak).

Selain itu, seseorang yang mengalami anxietas dapat mengalami perubahan mood secara mendadak, sehingga kondisi mental dan secara emosional mereka akan turun drastis. Hal ini ditandai dengan menurunnya konsentrasi atau penampilan, sering merasa stress atau depresi, sering marah, sering merasa takut, dan sering merasa tegang.