Menjadi mahasiswa psikologi tidak terbatas pada penguasaan teori dan presentasi di dalam kelas saja, namun juga perlu memiliki kemampuan basic wawancara dan pengamatan lapangan. Selain juga belajar dan berdiskusi, mahasiswa psikologi juga perlu untuk berkunjung mengamati tipologi kesehatan jiwa dan metode penanganan pasien Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Kecamatan Lawang. Seperti pada kesempatan mahasiswa Psikologi UNIRA Malang angkatan 2016 pada tahun 2018 lalu, mahasiswa yang berkunjung dan belajar akan disuguhkah oleh nuansa lingkungan yang masih memiliki bangunan-bangunan khas Belanda, udara sejuk, dan pohon-pohon rindang di kanan kirinya yang telah tumbuh beberapa abad. Sesekali terlihat para pasien dengan seragam mereka berjalan beriringan, berbelok lalu berpencar menuju asrama masing-masing, sesekali terlihat pasien di depan asrama beserta para perawat.
Pengunjung mungkin akan leluasa dengan menyusuri kawasan RSJ seluas 300 hektar yang bersih dan asri oleh tanaman yang terpangkas rapi di sisi jalan, akan tetapi, siapapun yang berkunjung dilarang untuk mengambil gambar apapun yang berkaitan dengan pasien, ataupun sekedar memberi uang kepada pasien. Kebijakan ini ditetapkan guna menjaga privasi kehidupan pasien dan menjaga agar pengunjung tidak membantu usaha pasien untuk melarikan diri.
Mahasiswa diajak untuk mengamati proses anamnesa para ODGJ yang dilakukan oleh terapis atau pihak berwajib di lingkungan RSJ, kali ini mahasiswa akan memahami bahwa ODGJ tidak hanya nampak seperti mereka yang mondar mandir di tepi jalan tanpa busana, akan tetapi, ada banyak yang nampak seperti orang sehat jiwa pada umumnya, selebihnya hanya bisa dipahami dan dibedakan setelah melewati proses wawancara dan pengamatan.
Ada pula sesi pembelajaran, tanya jawab, dan diskusi di dalam ruangan. Meski sekedar mengulas teori, dengan melibatkan dokter kejiwaan sebagai fasilitator, akan lebih membantu memperdalam dan memperluas pemahaman materi psikiatri tentang gangguan jiwa yang telah di peroleh di kampus.
Sistem kejiwaan tak ubahnya menjadi peran terhadap kendali pikiran dan perilaku yang berpengaruh pada fungsi saraf-saraf otak, sehingga sebagian otak bahkan hingga keseluruhan dapat semakin melemah. Untuk itu, pasien juga mendapat terapi okupasi (OT) berupa latihan yang melibatkan motorik halus untuk mengembalikan kemandirian mereka, meningkatkan motivasi, dan mengembalikan kreatifitas serta produktifitasnya.
Memasuki gedung satu menuju gedung lainnya, mahasiswa juga berkesempatan dalam mengamati ruangan dimana pasien beraktifitas, seperti, aktifitas sosialisasi dengan teman-temannya secara berkelompok, yang mana pasien diminta duduk melingkar untuj mendengar arahan dari terapis, kemudian satu persatu bersiri untuk berkenalan di depan teman-temannya, serta mereka sapat bersenda gurau antara pasien satu dengan yang lain.
Beralih pada gedung berikutnya, yang mana terlihat beberapa pasien yang tengah bekerja, seperti mengisi waktu luangnya dengan aktivitas menyulam, menenun, berkebun, dan melukis. Mahasiswa juga diberi kesempatan untuk mendengar obrolan dari Pak Dosen Kholik bersama pasien yang sedang beraktivitas, sederhana namun memberi banyak pemahaman tentang kondisi masing-masing pasien, sesuai teori dari buku PPDGJ yang sering dipelajari di kelas.
Selain itu, mahasiswa akan dibuat terpana oleh pemandangan di sudut ruangan, tepatnya beseberangan dengan lokasi berkebun pasien, yang penuh dengan kanvas bercorak. Setidaknya, ada sekitar 50-70 lukisan yang berjajar indah layaknya pameran lukisan bertaraf internasional yang bersembunyi di bilik.
Salah satu wahana pembelajaran yang tak kalah menarik, dengan nuansa Belanda yang masih melekat yakni museum kesehatan jiwa yang letaknya berhadapan dengan Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman W. Museum ini menjadi satu-satunya di Indonesia yang mengabadikan artefak alat-alat kedokteran jiwa dari zaman ke zaman. Dari sana, mahasiswa akan diperkenalkan beberapa dokumen lama, foto-foto pemimpin RSJ yang bergantung di dinding, lukisan-lukisan pasien, alat-alat kedokteran jiwa kuno mulai dari pasung tangan, pasung kaki, alat tenun kayu, dan bak untuk terapi perendaman. Ada pula proyektor kuno, alat musik piano kuno, bahkan alat pemotong otak dan tulang, hingga janin yang diawetkan berusia ratusan tahun!
Alat-alat tersebut tentu sudah ketinggalan zaman, lantas kini alat-alat semacam itu tidak sepantasnya diperuntukkan dalam merawat manusia. Dengan pemahaman manusia yang lebih baik, metode penanganan pasien gangguan jiwa lebih mutakhir dan lebih humanis. Namun, adanya artefak peninggalan zaman kuno tersebut hingga kini, hanya sebagai edukasi bagi masyarakat untuk tidak lagi menggunakan alat-alat semacam itu dalam menangani orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Perjalanan menuju Kecamatan Lawang sejauh 50 km akhirnya membuahkan pengalaman yang manis dengan berkunjung untuk belajar di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat, perjalanan yang penting untuk dilalui oleh mahasiswa psikologi meski hanya beberapa jam untuk berjingkat dari kelas menuju bilik mereka yang termarjinalkan.
Betapa luasnya ilmu pengetahuan yang telah tumbuh di atas bumi ini, namun betapapun luasnya akan tetap tandus jika manusianya tidak mendedikasikan terhadap sesamanya
